Hujan
turun rintik-rintik saat aku mencoba untuk memejamkan mata di senja hari. Aku
tahu betul tidur sore itu tidak bagus untuk kesehatan. Tapi apa salahnya
memejamkan mata sejenak setelah semalam aku tak bisa tidur.
Jadi
begini ceritanya. Aku menderita insomnia akut yang membuatku selalu melek di
malam hari dan tidur di siang hari. Malam dan siang seolah bertukar posisi. Untung
saja aku mengambil sekolah sore karena sekolahku sedang dalam tahap pembangunan.
Sisanya? Aku hanya berinteraksi dengan bantal di siang hari dan laptop di malam
hari. Yah, mau bagaimana lagi. Siapa yang mau ku ajak bicara tengah malam?
Sudah beberapa hari ini aku mulai bisa
tidur dengan nyenyak di malam hari. Aku bertemu dengan seorang psikiater yang
membantuku mengatasi insomniaku. Psikiaterku ini sangat ahli dalam menanganiku.
Ia mengenal karakterku dengan baik. Ya, dia mamiku!
“Mami
udah bikinin susu buat kamu.”
“Makasih
mami.”
“Eh,
mami mau curhat lagi nih.”
Waduh gaswat nih! Alamat kuping gue
bakal dengerin lagu nina bobo!
Dan,
yap! Begitulah terapi yang mami berikan padaku. Fix! Gue bakal tidur lebih awal malam ini!
Akhir-akhir
ini mami jadi suka curhat tentang teman-teman arisannya yang selalu pamer
perhiasan mahal. Terkadang mami juga bercerita bahwa papi gendutan. Ah, nggak penting banget deh mami! Aku
pun tertidur pulas dengan cepat berkat cerita mami yang ‘mengasyikkan’ itu.
Untunglah
sudah dua hari mami tidak menjalankan kebiasaan barunya itu. Aku pun bisa
terselamatkan. Hati dan otakku tak lagi harus menderita dan pura-pura bahagia
di depan mami. Walau begitu, aku tetap bisa tertidur nyenyak karena terapi yang
ku dapatkan dari mami selama hampir dua minggu sangat mujarab. It works!
Baby baby geudae neun... Caramel
macchiato... Lalalala.....
Aku
sang Korean Lovers bersenandung
kecil, menyanyikan lagu Coffee yang
dinyanyikan oleh BTS a.k.a Bangtan
Sonyeondan, idolaku. Bahagia sekali rasanya bisa tidur awal dengan damai
malam ini. Sebelum merebahkan tubuhku yang lelah, kubersihkan tempat tidurku
dengan sapu lidi terlebih dahulu. Kemudian aku berbaring di atasnya setelah
mencuci tanganku selama satu jam. Ya! Saat tatto tanganku yang terbuat dari
henna masih basah, aku tak sengaja menyentuh tempat tidurku dan membuat tatto
nya berantakan.
“Ah....
Aku ngantuk,” gumamku sambil memejamkan mata.
Baru saja aku memejamkan mata, sebuah
suara dengungan menghantui telingaku. Apaan
tuh cokelat-cokelat, terbang kesana kemari? Jantungku berdegup kencang.
Keringat dingin mengucur deras dari pelipisku.
Kecoa??????????? What’s happenig on this
earth?????
“Ke...
Ke... Kecoaa...”, aku berteriak. Lebih tepatnya berdesis.
“Eh,
kecoa... Lo pergi dong... Jangan gangguin gue....”, aku mulai mengiba pada si
kecoa kece yang nangkring di atas meja dekat kasur. Tapi kecoa itu terlalu
sombong untuk menjawab permohonanku. Ia juga terlalu jahat untuk mengasihaniku.
Mataku
tersisa lima watt lagi. Aku sudah tak tahan ingin terlelap. Tapi kecoa itu
masih saja mempermainkan aku. “Kecoa.... Please...
Leave me alone...”
Tiga
jam kemudian... Kecoa itu hanya bergerak lima senti di atas meja. Bahkan mulai
mendekat ke arah tempat tidurku.
“Woah
woah woah! Andwae!”, aku mulai
membentaknya. Melarangnya mendekat ke arahku. Tapi kecoa itu berjalan dengan
sangat luwes ke arahku.
Aku
betul-betul muak dibuatnya. Mau remuk rasanya tubuh ini.
“Pergi
nggak?!” Makhluk unyu itu hanya menatapku. Seolah berkata, Masalah buat lo?
“Aish! Gue udah ngantuuukkk....”, kali
ini aku benar-benar menangis sambil mengacak-acak rambutku. Ingin rasanya ku
injak kecoa itu. Tapi apa daya nyali tak sampai.
Setelah
beberapa saat meratap, akhirnya aku mendapatkan petunjuk dari yang di atas. Ku
ambil bungkus snack yang sudah
kuhabiskan isinya. Perlahan aku mulai mendekati kecoa yang sudah turun dan
berdiam diri di lantai. Ia bergerak sedikit. Menyadari rencana busukku;
mungkin.
Aku
mulai pasang kuda-kuda. Perlahan tapi pasti, aku mulai memberanikan diri untuk
mendekatinya. Setelah jarak kami hanya sekitar setengah meter, aku mengarahkan
bungkus snack itu ke arahnya. Dan,
yap! Sekarang ia terjebak di dalam bungkusan kosong itu. I did it!
Tapi
masalahnya sekarang, bagaimana aku mengeluarkan makhluk ini dari kamarku?
Lagi!
Kebiadabanku muncul di sini.
Kutekan
bungkusan kosong itu ke lantai, tapi tidak sampai membuat si kecoa mati
terjepit. Itu kulakukan hanya untuk memastikan bahwa si pengusik itu tidak bisa
kabur dari perangkapku. Kemudian kugeser perangkap itu perlahan menuju keluar
kamar. Hingga saat bungkusan itu sudah berada di luar, aku pasang kuda-kuda
lagi untuk melepaskan perangkap itu dan membiarkannya di luar. Ia pasti bisa
keluar sendiri nantinya. Aku masih punya hati nurani kok. Tak mungkin aku membunuhnya.
Setelah
melepas bungkus snack itu, secepat
kilat aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Woah, akhirnya makhluk itu keluar juga. Aku puas.
Jeng...
Jeng... Sudah tidak ada penganggu lagi. Waktunya tidur!
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Adzan Subuh berkumandang.
“Sisin!
Bangun! Shalat Subuh!”, teriak mami.
Dan
akhirnya aku harus rela kehilangan waktu tidurku hari malam ini. Setelah shalat
subuh, aku harus bergegas mandi dan bersiap ke sekolah. Sejak kelas dua setelah
pembangunan sekolahku selesai, aku mulai mengikuti kelas pagi sampai jam dua
siang.
Sepulang
sekolah, aku mengerjakan tugas yang memang sudah hampir deadline. Mau tak mau, aku harus rela mengorbankan waktu tidurku.
Sekarang
sudah jam empat sore. Aku ingin tidur walau sebentar saja. Namun hujan yang
deras ini membuatku tidak nyenyak tidur. Suara adalah faktor utama yang
mengganggu kenyenyakan tidurku.
Setelah
setengah jam turun hujan, aku mulai bisa memejamkan mataku. Tapi barusaja
hendak memejamkan mata, sebuah suara mengganjal mataku lagi.
“Sisin,
itu acara Rokie King nya BTS (Bangtan Sonyeondan) udah mulai,” teriak
mami dari dapur.
Aku
galau! Sumpah! Galau banget!
“Kalau
begini terus, kapan tidurnya?”, ratapku dalam hati sambil menatap Kim Seok Jin
dan member BTS yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar